Pandangan Nabi Muhammad SAW soal ‘Orang yang Bangkrut’

Berikut Perbuatan yang Paling Allah Senangi dari HambaNya
March 13, 2019
Pengemis Yahudi Buta dan Mulianya Akhlak Nabi Muhammad SAW
March 14, 2019

Pandangan Nabi Muhammad SAW soal ‘Orang yang Bangkrut’

NABI Muhammad SAW suatu hari membuka majelisnya dengan mengingatkan para sahabat tentang pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan). Rasulullah SAW melarang umatnya untuk saling menyakiti satu sama lain. Karena itu, pelbagai perangai pada masa Jahiliyah, semisal menghina, menjatuhkan martabat, rasisme, atau berkata dusta, hendaknya ditinggalkan.

Nabi juga menegaskan makna kehati-hatian (wara’). Sebab, setiap manusia pasti kelak dibangkitkan setelah kematiannya di dunia. Kehidupan tidak hanya sekarang, namun juga kelak di akhirat sana. Allah SWT akan menjadi Hakim yang memutuskan dengan maha adil setiap perkara yang telah terjadi di dunia.

“Wahai sahabat-sahabatku, menurut kalian, siapakah orang yang mengalami bangkrut (al-muflis) di antara umatku?” tanya Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya lagi sepeserpun dirham dan harta benda,” jawab salah seorang dari mereka.

“Wahai sahabat-sahabatku. Orang yang mengalami kebangkrutan dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun, pada saat yang sama, dia juga memikul dosa dari mencaci Si Fulan, menuduh Si Fulan berzina, dan memukul Si Fulan (saat masih hidup di dunia).

Akibatnya, sebagian pahala kebajikannya diberikan kepada Si Fulan. Sebagian lagi kepada Si Fulan. Dan ketika kebajikan-kebajikannya telah habis, sebelum dia dapat melunasi kesalahan-kesalahannya, maka kesalahan-kesalahan orang-orang itu diambil untuk kemudian ditimpakan kepada orang tadi. Maka, dia pun dihempaskan ke dalam neraka.”

Betapa meruginya orang-orang yang lalai dari menjaga perasaan dan kehormatan orang lain. Mereka lupa bahwa sekecil apa pun perbuatan akan dicatat dan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT.

Karena itu, kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah ladang kesempatan yang luas untuk terus memperbaiki diri, baik dalam hubungan vertikal, yakni ketundukan kepada Allah, maupun hubungan horizontal seperti memelihara silaturahim dan kerukunan sosial.

Rasulullah SAW pada kesempatan lain bersabda dalam sebuah hadits qudsi. “Wahai hamba-Ku (Allah), sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas Zat-Ku. Aku pun menetapkan bahwa kezaliman haram di antara kamu. Maka, janganlah kamu berbuat zalim.”

Hadits lainnya berbunyi, “Takutlah kalian terhadap kezaliman. Sesungguhnya, kezaliman itu menjadi kegelapan-kegelapan di Hari Kiamat.”

Semoga kita terjaga dari keadaan merugi di Hari Perhitungan kelak, amin. (Rep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *