Pengemis Yahudi Buta dan Mulianya Akhlak Nabi Muhammad SAW

Pandangan Nabi Muhammad SAW soal ‘Orang yang Bangkrut’
March 13, 2019
Memahami Makna Sabar
March 15, 2019

Pengemis Yahudi Buta dan Mulianya Akhlak Nabi Muhammad SAW

PENGEMIS buta itu selalu berada di salah satu sudut di dekat pintu kota Madinah. Dia Yahudi. Setiap kali ada orang yang mendekatinya, dia selalu berpesan, “Jangan pernah engkau dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir.”

Jika saja dia tidak buta, tentunya sikap dan perangainya cepat berubah. Karena Rasulullah Muhammad SAW gemar mendatanginya. Bukan untuk menghardiknya atau sekadar meminta klarifikasi atas hasutannya itu. Nabi SAW justru rajin datang kepadanya dengan menenteng makanan.

Beliau tanpa bicara sepatah kata pun lantas duduk di sebelah pengemis Yahudi buta itu. Usai meminta izin, Rasulullah SAW pun menyuapi orang tadi dengan penuh kasih sayang. Hal itu dilakukannya rutin, bahkan kemudian menjadi kebiasaan setiap pagi.

Sampai akhirnya Allah SWT memanggil beliau. Rasulullah SAW wafat, menyisakan duka yang teramat dalam di tengah para keluarga, sahabat, dan kaum Muslimin pada umumnya.

Kepemimpinan umat sudah berada di tangan Abu Bakar ash-Shiddiq. Sang khalifah ini memang sudah bertekad mengikuti tradisi dan kebijakan-kebijakan peninggalan Rasulullah SAW. Bahkan, termasuk rutinitasnya sehari-hari.

Abu Bakar suatu hari berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah. Abu Bakar bertanya kepada anaknya yang juga istri Nabi SAW itu.

“Wahai putriku, adakah satu sunnah kekasihku (Rasulullah SAW) yang belum aku tunaikan?” tanya Abu Bakar.

“Wahai ayahku, engkau adalah seorang ahli sunnah, dan hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu saja,” jawa Aisyah.

“Apakah itu?”

“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang sering duduk di sana,” ungkap Aisyah.

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan. Dia pun bergegas menuju titik lokasi yang dimaksud, supaya berjumpa dengan si pengemis.

Abu Bakar gembira mendapati adanya seorang pengemis buta yang duduk di dekat sana. Setelah mengucapkan salam, Abu Bakar lalu duduk dan meminta izin kepadanya untuk menyuapinya.

Namun, di luar dugaan pengemis tadi malah murka dan membentak-bentak, “Siapakah kamu!?”

“Aku ini orang yang biasa menyuapimu,” jawab Abu Bakar.

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” teriak si pengemis lagi, “Jikalau benar kamu adalah dia, maka tidak susah aku mengunyah makanan di mulutku. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu dengan mulutnya sendiri. Barulah kemudian dia menyuapiku dengan itu,” terang si pengemis sambil tetap meraut wajah kesal.

Abu Bakar tidak kuasa menahan deraian air matanya, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, Abu Bakar. Orang mulia itu telah tiada. Dia adalah Rasulullah Muhammad SAW.”

Pengemis itu seketika terkejut mendengar penjelasan Abu Bakar. Dia lalu menangis keras. Setelah tenang, dia bertanya memastikan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina, memfitnah, dan menjelek-jelekan Muhammad. Padahal, belum pernah aku mendengar dia memarahiku sedikit pun. Dia yang selalu datang kepadaku setiap pagi dengan membawakan makanan. Dia begitu mulia.”

Di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta itu kemudian mengucapkan dua kalimah syahadat. Demikianlah, dia masuk Islam karena menyadari betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. (Rep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *