Sudah Selayaknya Kita Bersyukur

Alquran Menuntun Kita Berlaku Adil dan Jujur
July 6, 2019
Menag Mengimbau Para Jamaah Calon Haji agar Jaga Kesehatan
July 9, 2019

Sudah Selayaknya Kita Bersyukur

SERINGKALI manusia mengabaikan syukur. Ia merasa segala yang telah didapatkan adalah hasil kerja keras atau jerih payahnya sendiri. Ia menganggap keberhasilan dan kesuksesan yang diraih karena kecerdasan otak dan kekuatan fisik semata. Ia lupa bahwa ada yang membantu, memberi jalan, dan memuluskan langkahnya dalam meraih itu semua. Siapa sesungguhnya yang melunakkan hati orang lain hingga mau bekerja sama, sehingga ia berhasil meraih sesuatu yang diinginkan? Sejatinya adalah Allah.

Jadi, sudah selayaknya manusia bersyukur kepada Allah atas semua itu. Syukur adalah bentuk dari rasa terima kasih kepadaNya atas semua yang telah Dia lapangkan dan mudahkan untuknya. Syukur adalah pengakuan kerendahan hati bahwa apa pun yang ia raih bukanlah karena faktor diri mereka sendiri. Di situ ada Allah yang membantu dan menggerakkan serta membuka jalan untuk meraih apa yang ia harapkan, impikan, dan cita-citakan. Dengan syukur, ia akan menyadari, sejatinya mereka bukanlah apa-apa tanpa campur tangan atau keterlibatan Allah.

“Dalam kitab “Madarij as-Salikin”, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengatakan, “Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan berupa pujian dan meng ucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Dengan melalui anggota badan berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.”

Orang lain sebatas wasilah atau perantara Allah melimpahkan karuniaNya dan membuka jalan rezekiNya. Hingga selain bersyukur atau berterimakasih kepada orang lain, ia juga semestinya bersyukur kepada Allah. Nabi mengatakan, “Orang yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur (berterimakasih) kepada manusia.” (HR ath-Thabrani). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit maka dia tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak.” (HR at-Tirmidzi).

Syukur akan membawa manusia pada sikap tawadhu atau rendah hati, tidak sombong. Syukur juga akan mencegah sesorang untuk berambisi terlalu jauh hingga melanggar hukum atau menghalalkan segala cara. Orang yang rakus terhadap sesuatu tanpa pernah merasa puas, itu salah satu tanda tidak bersyukur. Syukur akan selalu menempatkan seseorang di jalan yang benar, lurus, dan baik. Syukur juga akan membuat seseorang selalu optimistis menjalani kehidupan. Orang yang bersyukur takkan pernah iri hati dengan apa yang diraih orang lain, karena ia sepenuhnya sadar, dirinya juga mendapatkan bagiannya sendiri dari Allah.

Nabi pernah memberikan ilustrasi perihal orang yang bersyukur, “Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan ibadah ia melihat kepada yang lebih tinggi, lalu menirunya dan berusaha melampauinya. Dalam urusan dunia, ia melihat kepada orang yang rezekinya tampak lebih sedikit, lalu bersyukur kepada Allah bahwa ia masih diberi kelebihan dibanding orang itu.” (HR at-Tirmidzi).

Manusia perlu bersyukur kepada Allah sebelum terlambat. Karena itu merupakan bentuk kesadaran betapa segala yang manusia miliki sejatinya adalah dari Allah. Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam mengingatkan, “Orang yang tidak menyadari kadar karunia Allah saat sedang menikmatinya, maka ia akan menyadarinya ketika karunia itu telah lenyap.”

Manusia seringkali lupa bersyukur ketika menikmati karunia atau rezeki yang didapatkan. Ia baru ingat ketika rezeki itu tiba-tiba lenyap. Allah sangat mudah memberi nikmat, juga mudah menghilangkannya dalam sekejap jika orang yang diberi nikmat itu tidak mensyukuri nya. Hidup mesti penuh dengan syukur agar nikmat yang telah didapatkan tak mudah lepas, malah bertambah dan berkah. (Rep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *