Pemimpin yang Dicintai

Mulai 20 Juli, Gelombang Kedua Jamaah Haji Mulai Diberangkatkan
July 18, 2019
Jamaah Haji Indonesia Mulai Padati Kota Makkah
July 22, 2019

Pemimpin yang Dicintai

Nabi SAW pada persinggahan suatu perjalanan meminta sahabat-sahabatnya menyiapkan makanan dengan menyembelih seekor kambing. Seketika itu di beberapa orang dari sahabat itu berkata, “Wahai Rasulullah, saya yang akan menyembelih kambing.” Yang lain mengatakan, “Saya yang akan mengulitinya. Aku yang memasaknya,” sahut sahabat lain tidak mau ketinggalan berbakti kepada beliau.

Mendengar perkataan dan kesediaan para sahabat itu Nabi tersenyum. Kemudian, beliau berkata, “Aku yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”

Hampir serentak para sahabat berkata mendengar perkataan beliau, “Wahai Rasulullah, sudahlah engkau tidak usah bekerja.”

Menimpali Nabi, “Aku tahu kalian akan mencukupiku, namun aku membenci bila aku dilebihkan di antara kalian. Sesungguhnya Allah membenci hambaNya yang menginginkan diperlakukan istimewa di antara sahabat-sahabatnya.”

Demikianlah seorang pemimpin seharusnya. Setiap pemimpin perlu, bahkan harus meneladani kepemimpinan Nabi SAW. Meski sebagai pemimpin, bahkan sebaik-baiknya manusia, beliau tidak ingin dirinya terkesan khusus dari sesamanya.

Nabi selalu berusaha populis, merakyat. Juga, sebagai pemimpin beliau tidak hanya sebagai pemegang komando, ‘tukang perintah’, namun beliau turut serta bekerja, berbaur bersama rakyatnya. Di antaranya terbukti beliau selalu hadir berperang bersama kaum Muslimin. Pun beliau tidak malu ikut serta mengangkat batu, menggali parit, saat terjadi pada perang Khandak.

Beliau menjauhi sikap otoriter. Beliau sering berdialog atau bermusyawarah dengan pengikutnya, menerima masukan atau ide dari bawahannya, seperti ide siasat pada perang Khandak. Karena itu, menurut Abbas Mahmud Aqqad dalam bukunya “Abqariah Muhammad SAW”, di antara keistimewaan kepemimpinan Nabi SAW adalah beliau sangat menyayangi dan mengayomi orang lemah atau fakir miskin dan populis. Beliau tidak segan atau tidak malu-malu mengayomi, bergaul dengan orang-orang kalangan kelas bawah, wong cilik.

Disebutkan dalam suatu riwayat beliau dengan senang hati makan bersama pembantunya, duduk-duduk, berbicara dengan budak-budak. Bahkan. beliau menyatakan bahwa siapa yang tidak menyayangi orang-orang lemah, itu berarti di luar golongannya. Seperti disebutkan dalam sabdanya, “Barang siapa tidak menyayangi yang lemah di antara kita dan tidak mengetahui hak orang-orang terhormat di antara kita, maka bukan termasuk golongan kami.”

Nabi SAW dengan sikap-sikap kepemimpinan, di antaranya, yang menjadikan beliau sangat dicintai dan dihormati rakyatnya. Jadi, seorang pemimpin yang ingin dicintai dan dihormati rakyatnya hendaknya tidak otoriter dalam mengambil keputusan. Sudah seharusnya siapapun pemimpin mengikuti konsep yang dicontohkan Rasulullah SAW. (Rep)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *